Lingkungan Algon

Paguyuban Umat Beriman Yang Mau Berbagi Dan Merakyat

Browsing Posts tagged Natal

Sabtu, 16 Januari 2010

Pagi-pagi buta, hujan sudah mengguyur Taman Lembah Hijau dan sekitarnya. Mendung menggantung di sepanjang hari setelah itu. Tapi ini tidak menyurutkan niat anggota Bina Iman Remaja Lingkungan Aloysius Gonzaga dan ketua panitia Natal BIA 2009 untuk segera bergegas berangkat menuju ke Hompimpa.

Sementara itu, menjelang pukul 8, warga lainnya mulai berkumpul di posko Kenanga Raya 20. Sebagian mengenakan dress code merah, sebagian lagi putih. Beberapa gelintir lainnya cukup percaya diri mengenakan kostum orange khas Algonz. Sambil menunggu semua berkumpul, Pak Anom mengedarkan sarapan pagi dengan ucapan khas, “Yang lapar… yang lapar…” duh jadi persis di terminal ya :)

Setelah dirasa semua sudah berkumpul, berangkatlah rombongan menuju ke Hompimpa. Di sana sudah menunggu panitia Natal BIA Algonz 2009 yang didominasi oleh BIR sebagai sie acara. Tak lama, Frater Julius juga sudah menampakkan dirinya…

Ibu-ibu langsung sibuk dengan persiapan konsumsinya. Heboh sekali perlengkapannya, bahkan kompor minyak tanah pun tidak ketinggalan turut serta. Anak-anak langsung lupa dengan niatnya Natalan: langsung sibuk dengan ayunan, perosotan, panjat-panjatan… Beruntung Algonz mempunyai beberapa Bapak yang selalu siap mengabadikan moment istimewa seperti ini dengan jepretan dan rekaman videonya. Ada Pak Yeyen, Pak Djoenaedy, dan tak lupa alumni Algonz yang masih setia hadir dalam acara Algonz: Pak Harjanto. Semua moment indah acara ini tidak luput dari incaran beliau-beliau.

Tak lama kemudian, acara segera dimulai. Pembawa acara kali ini adalah Mia dan Sherly dari BIR. Doa pembukaan dipimpin oleh Pak Nugroho, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Pak Bimo, ketua panitia Natal BIA 2009. Tema perayaan kali ini adalah ‘Bersama Membawa Damai’. Intinya kita harus kenal satu sama lain terlebih dahulu baru kemudian membawa damai bagi sesama di sekitar kita.

Kemudian tiba saat kita mendengar cerita dari Frater Julius. Kali ini Frater bercerita tentang sepasang harimau bernama Hari dan Mau yang tinggal di suatu gurun. Kedua harimau tersebut masing-masing merasa melihat ada harimau lain yang hidup di dalam danau, tetapi dengan pendapat yang berbeda-beda. Si Hari merasa bertemu dengan harimau danau yang baik hati: harimau danau tersebut tersenyum ketika si Hari mengajaknya tersenyum. Sedangkan si Mau merasa bertemu dengan harimau danau yang jahat: harimau danau tersebut menyeringai dan mengaum keras ketika si Mau juga mengaum keras. Padahal sebetulnya yang mereka lihat di air danau tersebut tidak lain adalah pantulan dari diri mereka sendiri. Pesan dari cerita ini adalah apabila kita berbuat baik pada orang-orang di sekitar kita maka mereka pun akan baik kepada kita.

Setelah ibadat sabda selesai, acara dilanjutkan dengan permainan. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 10 orang, dewasa dan anak-anak, sambil bergandengan tangan. Permainan kali ini berjudul Polisi dan Pencuri. Ada dua untai tali yang harus diedarkan berkeliling dalam kelompok, namun tangan masing-masing tidak boleh terlepas. Kelompok yang bermain paling lama lah yang jadi pemenangnya.  

Permainan kedua adalah permainan Tebak Kata. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang, masing-masing mendapat sepasang abjad yang dikalungkan di leher dengan bunyi TUKIN SEMAR. Panitia akan membacakan pertanyaan dan kemudian peserta beradu cepat merangkai jawaban dari abjad-abjad yang telah mereka kalungkan di leher. Seru sekali acaranya, karena selain pertanyaannya agak susah, kadang juga ternyata ada jawaban yang cukup ‘ajaib’ di telinga para peserta, sehingga tak jarang peserta protes kepada panitia karena pertanyaan yang aneh J

Selesai acara tersebut, dilanjutkan dengan permainan untuk BIA berupa Kelereng Estafet menggunakan plastik bekas botol aqua.

Tidak terasa, perut sudah berteriak-teriak minta diisi. Akhirnya acara selanjutnya adalah makan siang. Makanan santap siang kali ini adalah  sumbangan dari ibu-ibu Algonz. Ada mie goreng, ayam goreng, lalapan, sambel, es campur, rujak, dan yang paling laris adalah bakso kuah… yummy…

Selesai acara makan, perserta berkumpul kembali. Ternyata ada yang berulang tahun kali ini, yaitu Dea, putri pertama Pak Agri dan Bu Uning… Semua menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, mengiringi Dea meniup lilin kue ulang tahunnya. Lalu Dea dipersilakan menyanyi dengan iringan musik dari papa tercinta.  Nggak afdol dong kalau yang ulang tahun nggak dikerjain… Teman-teman BIR ternyata telah mempersiapkan ember berisi air untuk mengguyur Dea dan lalu menaburinya dengan tepung terigu… Walaupun sudah berusaha melarikan diri dari kejaran teman-temannya, tetap saja Dea tertangkap dan lalu basah kuyup… Selamat ulang tahun Dea… semoga Dea selalu menjadi kebanggaan orang tua dan Tuhan selalu memberkati setiap langkah Dea. Amin.

Sembari BIR sibuk dengan acara guyur-mengguyur, ternyata BIA juga punya acara sendiri: bermain di kereta Hompimpa yang sebetulnya sudah rusak. Mereka yang sudah cukup besar bergantian mendorong adik-adiknya yang riang sekali naik kereta… Sungguh kebersamaan yang membahagiakan…

Acara ditutup dengan doa oleh ketua lingkungan Algonz: Pak Ahon. Setelah itu, dibagikan bingkisan makanan kecil dan kartu doa untuk anak-anak BIA. Diumumkan oleh Pak Ahon bahwa mulai saat ini anak-anak BIA diminta mengajak orang tuanya untuk berdoa bersama setiap hari di rumah masing-masing. Setiap selesai berdoa, orang tua membubuhkan satu tanda tangan di kartu tersebut. Lalu di setiap hari Sabtu pagi, pada saat kegiatan BIA, kartu tersebut dikumpulkan. Yang rajin berdoa akan mendapat reward berupa sticker dari Pendamping BIA. Ini merupakan salah satu program lingkungan Algonz yang baru.

Lalu selesailah acara Natal BIA Algonz 2009. Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu sepanjang acara ini dan atas cuaca yang mendukung sehingga acara ini berlangsung dengan lancar. Terima kasih kepada BIR dan para pendamping, serta Bapak Ibu panitia yang berhari-hari merelakan waktunya untuk mempersiapkan acara ini. Terima kasih kepada semua yang telah mempersiapkan makanan santap siang. Terima kasih juga kepada seluruh peserta Natal BIA 2009… Sampai jumpa lagi dalam acara berikutnya…

By Bunda Ari

  

Lingkaran Adven

Lingkaran Adven

 

Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November). Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.
 
Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.
 
Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.
Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).
 
Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita  ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.
 
Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.
 
Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga… tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.
 
 

oleh: P. William P. Saunders
pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology
at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

 

 

 

Powered by WordPress Web Design by SRS Solutions © 2010 Lingkungan Algon Design by SRS Solutions